MI GUPPI SUDIMORO 3

Beranda » Uncategorized » Pengaruh Perkembangan Sistem Pendidikan Madrasah terhadap Budaya Santri Sudimoro di Jawa

Pengaruh Perkembangan Sistem Pendidikan Madrasah terhadap Budaya Santri Sudimoro di Jawa

Sebelum memaparkan tentang pengaruh perkembangan sistem pendidikan madrasah terhadap budaya santri Sudimoro akan lebih dahulu dipaparkan mengeanai sejarah awal munculnya madrasah dan sebeb-sebab yang melatar belakanginya.

Satuan pendidikan Islam dapat dibagi dalam beberapa kategori yaitu non pesantren (madrasah), pesantren, diniyah murni, dan perguruan tinggi Islam (Mastuhu, 1999:80-81). Madrasah secara sederhana berarti salah satu jenis lembaga pendidikan Islam yang berkembang di Indonesia yang diusahakan disamping masjid dan pesantren (Maksum, 1999:7). Hal-hal yang mendasari kelahiran madrasah antara lain motivasi agama, motivasi ekonomi karena berkaitan dengan ketenagakerjaan dan motivasi politik (Maksum,1999:63). Hal- hal tersebutlah yang juga mendasari kelahiran madrasah di Indonesia pada awal abad 20 M.

Kemunculan madrasah di Indonesia dimulai dari upaya-upaya memperbaharui sistem pendidikan Islam baik yang dilakukan secara pribadi maupun yang dilakukan secara institusional lewat organisasi sosial keagamaan (Khozin, 2006:114). Eksistensi madrasah dalam tradisi pendidikan Islam di Indonesia dimulai sekitar awal abad ke 20.

Menurut Maksum (1999:82) hal-hal yang menjadi latar belakang kelahiran madrasah di Indonesia adalah:

  1. Faktor Pembaharuan Islam

Dalam tradisi pendidikan Islam di Indonesia , kemunculan dan perkembangan madrasah tidak bisa dilepaskan dari gerakan pembaharuan Islam yang diawali oleh sejumlah tokoh intelektual Islam dan kemudian dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam baik di Jawa, Sumatera maupun Kalimantan. Pendidikan agaknya dipandang sebagai aspek strategis dalam membentuk pandangan keislaman masyarakat. Dalam kenyataannya pendidikan yang terlalu berorientasi pada ilmu-ilmu agama seperti yang dilakukan dalam pendidikan di masjid, surau dan pesantren kurang memberikan perhatian kepada masalah sosial, politik ekonomi dan budaya. Karena itu untuk melakukan pembaharuan terhadap pandangan dan tindakan masyarakat langkah strategis yang harus dilakukan adalah memperbaharui sistem pendidikan.

Munculnya ide pembaharuan di Indonesia tidak bisa lepas dari pusat peradaban Islam yaitu Timur Tengah. Ide pembaharuan ini dipengaruhi oleh tokoh-tokoh Timur Tengah seperti Jamalauddin al-Afgani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad Quthb dll. Pengaruh tokoh ini terhadap gerakan umat Islam di Indonesia dimungkinkan antara lain karena terbukanya untuk memperdalam Islam di pusat pendidikan Islam seperti Kairo, Mekkah, dan Madinah.

  1. Respon terhadap politik pendidikan Belanda

Selain pengaruh dari gerakan pembaharuan Islam di Timur Tengah yang berdampak di Indonesia, kemunculan madrasah di Indonesia pada awal abad 20 juga merupakan respon atas kebijakan dan politik pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu. Dalam batas-batas teretentu dapat dikatakan bahwa madrasah merupakan lembaga persekolahan ala Belanda yang diberi muatan keagamaan.

Ketika Belanda mulai memperhatikan pendidikan pribumi dan mendirikan banyak sekolah rendahan atau sekolah desa yang tidak hanya memberikan kesempatan untuk rakyat jelata agar dapat membaca dan menulis tetapi juga menjanjikan para siswanya untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik walau hanya sebagai pegawai rendahan pemerintah kolonial. Disinilah lembaga pendidikan Islam tradisional mendapat tantangan yang lebih nyata. Oleh karena itu, para intelektual Islam Indonesia pada masanya mulai mengembangkan pendidikan Islam baik dalam bentuk maupaun materi yang diajarkan. Selain itu, tekanan-tekanan pemerintah kolonial terhadap Islam umumnya dan pendidikan Islam khususnya semakin mendorong lahirnya madrasah.

Menurut pendapat lain yaitu Muhaimin (1993:305) kehadiran madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam setidak-tidaknya karena beberapa alasan:

  1. Sebagai manifestasi pembaharuan sistem pendidikan Islam
  2. Penyempurnaan sistem pesantren
  3. Keinginan sebagian kelompok santri terhadap model pendidikan barat
  4. Sebagai sintesa sistem pendidikan pesantren dan sistem pendidikan barat

Bentuk madrasah pada awal pertumbuhannya dibagi dua (Fadjar, 1999:91):

  1. Madrasah Diniyah-Salafiyahyang terus tumbuh dan berkembang dengan peningkatan jumlah maupun penguatan kualitas sebagai lembaga tafaqquf fi ad-din (lembaga yang semata-mata berorientasi mendalami agama).
  2. Madrasah-madrasah yang selain mengajarkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam juga memasukkan beberapa materi yang diajarkan di sekolah sekolah yang diselenggarakan pemerintah Belanda.

Kedua jenis sekolah ini tidak hanya dikenal dilingkungan umat atau organisasi pembaharuan tetapi juga dikenal dilingkungan pesantren tradisional seperti yang dijalankan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa pendidikan Islam sistem madrasah lahir sebagai jawaban atas kebutuhan belajar atau pendidikan yang tumbuh di masyarakat, sehingga eksistensinya bergantung pada masyarakat sebagai pengelolanya. Jika masyarakat memiliki sumber dana dan sumber daya manusia yang cukup, pengelolaan madrasah akan baik. Sebaliknya jika sumber dana dan sumber daya manusia yang dimilki tidak cukup maka pengelolaan madrasah akan apa adanya (Tolkhah,I dan a.Barizi,2004:41-42).

Sistem pendidikan madrasah ini berbeda dengan sistem pendidikan pesantren. Dalam pengajaran sehari-hari madrasah menggunakan model pendidikan klasikal. Materi yang diajarkan tidak hanya ilmu agama tetapi juga ilmu umum termasuk didalamnya Bahasa Belanda seperti yang diajarkan di madrasah Manbaul Ulum Surakarta yang didirikan pada 3 Juli 1905. Madrasah ini berada di lingkungan keraton Surakarta dan pesantren Jamsaren (Hisyam, 2001:142). Dalam sistem pendidikan madrasah ini ketika siswa atau pelajar telah menyelesaikan pendidikannya maka ia akan mendapat ijazah formal yang kelak akan dapat dijadikan modal untuk mencari pekerjaan.

Pada masa pemerintah kolonial Belanda  bahkan sampai sekarang jabatan-jabatan administratif ataupun pekerjaan-pekerjaan dilingkungan formal menuntut adanya ijazah resmi sebagai syarat masuk. Umat Islam Indonesia pada umumnya dan Jawa khususnya pada masa pemerintah kolonial Belanda jarang yang mendaftarkan anaknya masuk ke sekolah formal yang didirikan pemerintah kecuali golongan atas seperti priayi. Selain karena tidak adanya kesempatan yang diberikan untuk mengakses pendidikan formal oleh pemerintah kolonial bagi kalangan bawah juga karena adanya fatwa haram yang dikeluarkan oleh kiai bahwa semua hal yang berhubungan dengan Belanda haram. Sehingga pada masa itu sedikit sekali umat Islam yang dapat masuk atau bekerja di lingkungan pemerintahan kolonial kecuali priayi yang selalu mendapat tempat istimewa dari pemerintah, umat Islam ini lebih banyak bekerja di sektor informal.

Dengan adanya ide-ide pembaharuan dari Timur Tengah yang sampai ke Indonesia melalui sarjana-sarjana Indonesia yang belajar kesana dan perkembangan jaman serta tuntutan masyarakat seperti yang telah disebutkan diatas. Maka mulailah ada usaha-usaha untuk mengembangkan pendidikan Islam  dengan mendirikan madrasah yang menggunakan sistem pendidikan barat. Pada awalnya sistem pendidikan madrasah yang meniru sistem pendidikan barat banyak mendapat protes dari kiai senior sebagai contoh ketika pendirian madrasah Manbaul Ulum di Surakarta (Hisyam, 2001: 142)

Madrasah sejak awal pendiriannya walaupun mendapat protes dari kalangan kiai senior merupakan daya tarik tersendiri bagi umat Islam. Sistem formal yang dikembangkan dengan adanya ijazah resmi cukup menarik santri pondok pesantren untuk masuk didalamnya apalagi madrasah di Jawa umumnya dikembangkan oleh keluarga pesantren seperti di Tebuireng Jombang. Adanya peluang kerja yang lebih baik bagi lulusan madrasah membuat sistem pendidikan ini berkembang dengan pesat dan mulai menyebar ke seluruh wilayah Jawa. Seperti madrasah Manbaul Ulum di Surakarta yang didirikan sebagai sekolah calon pengulu yang memiliki banyak siswa dan mampu menghasilkan lulusan yang kelak banyak menjadi pejabat-pejabat penting di masa Indonesia merdeka (Hisyam, 2001:145).

Hal yang sebenarnya cukup berpengaruh terhadap memudarnya budaya santri Sudimoro dalam tradisi pesantren di Indonesia adalah sistem pendidikan madrasah yang berjenjang. Sistem ini mengharuskan siswa untuk tetap berada disatu pesantren -yang disana terdapat madrasah-  dalam waktu yang lama untuk menyelesaikan pendidikan berjenjang di madrasah walaupun ilmu agama yang didalami telah selesai.

Hal yang perlu ditekankan disini adalah bahwa memudarnya budaya santri Sudimoro pada awal abad 20 hingga sekarang tidak berarti bahwa sistem pendidikan pesantren langsung meredup dan tidak lagi mampu bertahan dalam perkembangan jaman selanjutnya. Terbukti bahwa pesantren-pesantren besar sejak jaman kolonial sampai sekarang tetap eksis dengan memadukan sistem pendidikan pesantren dan sistem pendidikan madrasah bahkan Pesantren Tebuireng telah memiliki universitas sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: